Indonesian Arabic Chinese (Simplified) Chinese (Traditional) English French German Hindi Italian Japanese Korean Portuguese Russian Spanish

SALURAN PENGADUAN

LAYANAN PUBLIK

 

Sampaikan keluhan dan saran terhadap layanan instansi ini beserta identitas anda pada:

 

DINAS KELAUTAN DAN PERIKANAN DAERAH PROVINSI SULAWESI TENGAH

Jl. Undata No. 7

Telp. 0451 429379 Fax. 0451 421560

Palu 94111

Email: dkp@sulteng.go.id

Website: www.dkp.sulteng.go.id

 

partisipasi anda sangat berguna untuk peningkatan layanan publik

 

PERAHU SANDEQ, KEBANGGAAN INDONESIA PDF Print E-mail
Written by DKP 1   
Sunday, 16 September 2012 00:00

Ada hal menarik di tengah-tengah pelaksanaan event Sail Morotai 2012. Ditengah parade Yacht modern dan kapal perang dilakukan, tiba - tiba muncul sebuah perahu tradisional Indonesia bercadik dua. Perahu yang dikenal dengan nama Sandeq tersebut dengan gagahnya membawa merah putih, berparade di depan Presiden RI saat acara puncak berlangsung. Tak pelak, tepuk tangan dan riuh penonton mengawal satu-satunya wakil dari Indonesia ini. Rasa nasionalisme kembali menyeruak saat beberapa bule dari atas Yacht terlihat turut bertepuk tangan sembari mengacungkan jempol pada kru perahu ini. Pertanda rasa salut atas keberhasilannya menyelesaikan pelayaran Makassar- Morotai.

 

Jika melihat bentuk fisiknya, banyak di antara penonton tidak percaya bahwa Perahu Sandeq mampu berlayar mengarungi samudera. Panjangnya yang hanya 11 m dan lebar 0,8 m rasanya tak sebanding dengan kemegahan puluhan Yacht yang ikut serta dalam Sail kali ini. Terlebih, dukungan mesin katinting 6 HP buatan tahun 80an, yang dibeli di pasar loak Surabaya, rasanya mustahil bisa digunakan berlayar dibandingkan mesin modern milik Yacht yang rata-rata berkapasitas di atas 50 HP. Belum lagi rusaknya GPS murahan yang rusak selama dalam perjalanan, alhasil pelayaran Sandeq tersebut hanya bermodalkan arah bintang dan tanda-tanda alam lainnya.

Namun itulah kenyataannya, perahu tradisional dengan tiang layar 15 m kembali membuktikan cerita tentang kegigihan pelaut-pelaut Indonesia. Dedi, salah seorang kru mengatakan, inilah yang ingin ditunjukkan pada dunia. "Kami ingin tunjukkan pada bule-bule itu, bagaimana nenek moyang kita dulu mampu menjelajah lautan luas walaupun hanya bermodalkan perahu sederhana" jelasnya dengan wajah ceria. Dedi juga menjelaskan, bahwa ini pengalaman pertamanya ikut dalam pelayaran Sandeq, sehingga alumni Hubungan Internasional Unhas ini menjuluki perjalanannya ke Morotai sebagai "Mortal Combat".

Di pihak lain, Anton Samalona, pimpinan kru Perahu Sandeq tersebut menjelaskan bahwa ide awal pelayaran justru datang dari salah satu kru senior bernama Hari, yang terus memberikan dorongan untuk mengikuti event akbar tersebut."Sebenarnya perjalanan ke Morotai bisa ditempuh kurang dari 8 hari, namun kami ingin lebih menikmati perjalanan dan berinteraksi dengan penduduk di sepanjang rute pelayaran" ungkapnya.

Dirinya menjelaskan, selama perjalanan mulai dari Makassar, menyinggahi banyak tempat, di antaranya Karama Mandar, Mamuju, Pasang Kayu, Sojol, Karama Buol, Manado, Bitung, Pulau Mayo dan berakhir di Morotai. Pria humoris yang sehari-hari bekerja sebagai instruktur selam di Pulau Samalona ini berharap dapat mengikuti Sail di negara lain dengan Perahu Sandeq kesayangannya yang benama Ati Raja. "Sebelumnya, nama perahu khas Mandar ini adalah Masya Allah, dan sudah 8 kali memenangi Sandeq Race, dibeli secara patungan pada April tahun ini", kata Anton bangga.

Taslim, kru yang ikut pelayaran juga menambahkan bahwa banyak pengalaman yangditemui selama perjalanan. "Perahu sempat terbalik dan tenggelam di lepas pantai perairan Buol, Sulawesi Tengah, namun dengan semangat yang tinggi, Alhamdulillah kami bisa menyelesaikan pelayaran", paparnya. Saat ditanya mengenai logistik, Taslim menjelaskan bahwa dana pelayaran ini murni hasil patungan dari kru yang ikut berlayar.

"Selama berlayar, kami banyak makan ikan hasil pancingan sendiri. Terkadang beberapa nelayan yang dijumpai juga memberikan ikan sebagai bentuk solidaritas sesama pelaut", kenang Taslim. Anton dan krunya bencana akan berlayar ke beberapa tempat di sekitar Maluku, sebelum pulang ke Makassar. "Kami berencana untuk pulang melalui Kendari, sehingga genaplah pelayaran ini melintasi Pulau Sulawesi", ucapnya mantap. Pihaknyajuga berharap, bila ada Sail lain baik di Indonesia maupun luar negeri, pemerintah dapatmengundang sebagai peserta untuk kembali membuktikan kedigjayaan pelaut Indonesia.

 

Last Updated on Thursday, 08 November 2012 01:53
 


Copyrigh © 2008 - 2012 Situs Resmi Dinas Kelautan dan Perikanan Daerah Propinsi Sulawesi Tengah - All Rights Reserved - Penampilan ke-2 Sejak online Tahun 2008